Kamis, 18 November 2010

SAAT MEMULAI SUKSES

The Mirror : SAAT MEMULAI SUKSES

Kolonel Sanders memulai dan sukses dg KFC di usia kakek-kakek. Lincoln jadi presiden di atas 50 tahun. Banyak dari kita, ketika menapak senja dan merasa "belum jadi apa-apa", menjadi rendah diri dan berat melangkah. MEMULAI SUKSES - ternyata: Bisa dimulai di penggalan usia berapapun, bahkan setahun menjelang ajal sekalipun. Tuhan memberikan hak sepenuhnya pada kita untuk memilihnya.

Selasa, 16 November 2010

JEMARI MENUNJUK BULAN

The Mirror : JEMARI MENUNJUK BULAN

Kenapa banyak manusia tertekan dan kebingungan?Karena mereka tak sampai di tempat sesungguhnya,padahal sudah habis melangkah.Banyak yang salah jalan, banyak yang keliru menentukan jalan.Bak jemari menunjuk bulan!Seharusnya mata melihat bulan,tapi justru memelototi jarinya sendiri.Ia kehilangan sang bulan,dgn segenap kekayaan dan keindahannya.Ubahlah pandangan matamu, sekarang juga.

MENYEDOT SUSU IBU PERTIWI

The Mirror : MENYEDOT SUSU IBU PERTIWI

Tanpa bencana alam beruntun pun, negeri ini akan "habis" dengan sendirinya. Karena sedikit sekali dari kita, apalagi para pemimpin, yang paham pesan dahsyat JFK : Jangan tanya apa yang bisa diberikan negara padamu, tapi tanyakan dulu - apa yang bisa kauberikan pada negaramu. Kita h...anya bisa meminta, mengambil, menyedot susu dan madu ibu pertiwi. Sebentar lagi juga habis !

Sabtu, 13 November 2010

MEMAHAMI HUKUM SYUKUR

The Mirror : MEMAHAMI HUKUM SYUKUR

Siapa memahami hukum SYUKUR, luar dalam hidupnya akan MAKMUR. Ketika Anda dihadapkan 2 kondisi : suatu saat gaji Anda naik 5 %, lain waktu 20 %, satu kali dipuji tapi selanjutnya dimaki, dapat rejeki 10 ribu rupiah dan lain waktu 100 juta...lalu Anda dapat mensyukuri semuanya itu dengan KADAR yang sama ...artinya : Anda telah paham hukum syukur !

Kamis, 11 November 2010

NERACA KEDEWASAAN JIWA

The Mirror : NERACA KEDEWASAAN JIWA

Mau SUKSES SEJATI ? Ukur dulu kedewasaan JIWA Anda. Caranya : hidup Anda sudah lebih banyak ditandai oleh 'ME" daripada "DI". Misalnya : lebih banyak MEmberi drpd DIberi, MEnolong drpd DItolong, MEncintai drpd DIcintai, MEngampuni drpd DIampuni...! Silakan tengok neraca kedewasaan JIWA Anda, sebab di sana Tuhan sering bersemayam.

Rabu, 10 November 2010

The Mirrror : CUKUP SEBUAH SENYUMAN


Kehidupan itu tergantung kita,bukan sebaliknya.Cobalah tersenyum, maka orang yang bersua Anda akan balas tersenyum, demikian juga segenap kehidupan di sekitar Anda.Cobalah memuji, maka kehidupan akan balik memuji Anda. Cobalah memaki, kehidupan akan mencerca Anda lebih hebat.Cobalah m...emberi, kehidupan akan mengguyur Anda lebih banyak lagi.Sesederhana itu,cobalah kalau tak percaya.

Minggu, 07 November 2010

The Mirror : BUKAN SIAPA-SIAPA YANG TERBAIK

The Mirror : BUKAN SIAPA-SIAPA YANG TERBAIK

Kalaupun Anda saat ini cuma jadi OB,jadilah OB terbaik.Kalaupun jadi presiden, jadilah presiden terbaik. Kalaupun jadi CEO,jadilah CEO terbaik. Kalaupun jadi bapak,jadilah bapak terbaik.Bahkan kalaupun Anda saat ini "bukan siapa-siapa",jadilah "bukan siapa-siapa" yang terbai...k.Kehidupan hanya menyediakan tempat bagi mereka yang TERBAIK - SAAT INI !

The Mirror : CINTA YANG FINAL

The Mirror : CINTA YANG FINAL

Cinta Tuhan itu FINAL ! Kebaikanmu tidak akan menambah cintaNYA kepadamu, sebaliknya - kejahatanmu tidak akan mengurangi cintaNYA kepadamu ! Karena itu berhati-hatilah dengan cinta Tuhan kepadamu.

Sabtu, 06 November 2010

Ada Cinta di Balik Merapi

Letusan Merapi mengajarkan banyak hal kepada kita. Mbah Maridjan sudah banyak diulas dan secara personifikasi: hampir semua wacana terkait Merapi bermuara pada sosok fenomenal itu. Namun, sesungguhnya Merapi menyelipkan sebuah pesan luar biasa luhur yang perlu dijadikan pelajaran oleh bangsa ini keseluruhan.
Pesan itu terselip pada para petugas pengamatan Gunung Merapi. Mereka bak kapten kapal yang tenggelam. Meski tahu tak ada yang bisa dicegah, para petugas itu pantang turun hingga detik terakhir. Bahkan, mereka tidak turun sama sekali. Ancaman awan panas bersuhu 600 derajat celsius dengan kecepatan 200 kilometer per jam yang sewaktu-waktu bisa menerjang ke arah mereka seolah tak dihiraukan. Jika itu terjadi, dipastikan akan sangat sedikit waktu untuk mengelak (Kompas , 2/ 11).
Salah satu dari mereka adalah Triyono yang sudah bertugas selama 20 tahun di pos yang hanya berjarak tujuh kilometer dari puncak Merapi, padahal instansi berwenang menetapkan radius bahaya primer Merapi minimal 10 kilometer. Takut? Triyono dengan jujur bilang bahw aia takut, tetapi ia tetap menjalankan tugasnya mengengkol sirene zaman Belanda selama dua jam untuk memperingati warga, selain tugas-tugas berat lainnya.
Kehidupan luhur
Triyono dan kawan-kawannya merupakan pelajaran kehidupan luhur di balik Merapi. Ada tiga tingkatan manusia dalam menjalani tugas kehidupannya. Pertama, manusia yang menerima dan menjalani tugas kehidupannya sebagai kewajiban. Mekanisme kerjanya dilandasi oleh prinsip penawaran diri, transaksional. Artinya, seseorang menawarkan dirinya melakukan tawar-menawar sehingga usaha, kerja, dan kinerjanya selalu dihubungkan dengan seberapa besar hasil atau kusala yang ia dapatkan.
Orang-orang transaksional yang memandang tugas sebagai kewajiban ini biasanya akan lari dari tanggung jawab jika menghadapi risiko atau bahaya. Atau, ia akan mencari penghasilan lain (dengan cara apa pun) jika dirasakannya penghargaan lebih kecil dari tugas dan risiko yang diemban, atau yang paling ringan adalah mereka menjalankan tugas seadanya, ala kadarnya.
Pejabat yang sembunyi di balik punggung atasannya, menteri yang berondok di balik ketiak presiden, atau mereka yang harfiah melarikan diri, para koruptor, sampai petugas kereta api yang bekerja seadanya sehingga menyebabkan kecelakaan adalah contoh-contoh manusia transaksional tersebut.
Kedua, manusia yang menjalankan tugas kehidupannya sebagai amanah dilandasi oleh prinsip pengabdian diri, moral. Orang-orang ini akan melakukan tugasnya dengan semangat pelayanan. Implikasi dari prinsip tersebut membuat seseorang bekerja dengan asas kepatuhan. Sebesar apa pun risikonya, ia akan menjalankan tugas kehidupannya dengan taat.
Orang-orang amanah ini setingkat di atas mereka yang transaksional. Mereka biasanya tetap menjalankan tugas dengan patuh dan sebaik-baiknya, sesuai dengan target yang dilekatkan kepadanya meski mungkin gaji atau hasil yang diterima kecil dan tak sebanding dengan besarnya tugas yang diemban. Triyono dan kawan-kawan sudah jelas di tahap ini, seperti yang dikatakan oleh teman Triyono yang bernama Yulianto—tugas penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat ini dianggap sebagai amanah yang harus dijalankan—sebagai petugas pengamatan.
Namun, apakah benar Triyono, Yulianto, dan yang lainnya itu berhenti pada tataran pengabdian diri, prinsip moral semata? Sepintas memang demikian, tetapi mungkin jika diteliti lebih jauh, mereka sesungguhnya sudah menapak pada tataran tertinggi.
Ketiga, manusia yang menjalankan tugas kehidupannya sebagai sebuah cinta, dilandasi oleh prinsip penyerahan diri. Tugas itu seberapa apa pun dan berisiko akan diterima, digeluti, dan dijalankan dengan cinta. Orang-orang ini bukan hanya menjalankan semuanya karena kepatuhan (apalagi kewajiban) lalu mengerjakan sebaik-baiknya sesuai target. Bukan! Mereka menjalankannya karena mencintai tugas itu, mencintai siapa pun yang mereka layani atau penikmat hasil ker - janya. Mereka bekerja melampaui kewajiban mereka.
Mereka tidak hanya bekerja ”sekadar” memenuhi target yang dibebankan, tetapi bahkan melebihi target-target tersebut meski tak pernah diminta atau diawasi sekalipun. Bahkan mereka ”m e ny e r a h k a n d i r i ny a ” untuk tugas itu, untuk mereka yang menikmati hasil kerjanya. Triyono dan kawan-kawannya tampaknya sudah berada di tataran ini sebab sudah rela ”menyerahkan dirinya” untuk tugas itu. Risiko kehilangan nyawa pun mereka terima. Ini bukan lagi soal kepepet takut kehilangan pekerjaan mengingat gaji yang mereka terima tidaklah sebanding dengan risiko yang dihadapi.
Negara tak hadir
Jangan lupa pula, kemerdekaan negeri tercinta ini bisa diraih hanya karena banyaknya manusia Nusantara yang menjalankan tugas (baca: berjuang) dengan prinsip cinta, penyerahan diri kepada perjuangan itu sendiri dan Tanah Air.
Ada cinta di balik Merapi, ada pelajaran berharga bagi bangsa ini: kebesaran dan kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan, gaji, atau hasil yang diterima atau popularitas karena cinta dan penyerahan diri itu sendiri menyapa siapa pun manusia tanpa memandang atribut, tergantung apakah kita mau menerima dan menjalaninya atau tidak.
Dan itu terlihat nyata pada sosok Triyono dan kawan-kawan yang secara atribut hanyalah para ”manusia kecil”. Sementara itu, para pemimpin kita secara statistik sebagian besar merupakan manusia transaksional, sebagian kecil merupakan manusia amanah, dan hanya hitungan jari sebagai manusia cinta.
Jadi, bagaimana kita bisa menjadi bangsa besar?
Ada cinta di balik Merapi—daripada menunggu para pemimpin, sebaiknya kita mulai saja dari diri kita masing-masing— dengan mencintai apa yang jadi tugas kita, atau apa yang ada di genggaman tangan kita saat ini.
Apalagi jika negara tidak lagi hadir di tengah kita seperti yang nyata terlihat di Wasior, Mentawai, dan kawasan sekitar Gunung Merapi saat ini.

Rabu, 03 November 2010

The Mirror : TENTANG MAHLUK HAWA

Mahluk hawa lebih bangga disebut "WANITA".Ada wanita karir, wanita pengusaha, dst.Padahal wanita artinya: ateges wani ditata (maunya diatur-atur), mengingkari napas emansipasi. Banyak yang risih diisebut "PEREMPUAN", katanya terlalu klasik (jadul).Padahal, perempuan itu dari kata EMPU, y...ang artinya dituakan. Implikasinya, harus dituakan itu..ya dihormati, dijunjung,..DAHSYAT! Nah loo

Selasa, 02 November 2010

MENJADI MANUSIA BEBAS

The Mirror :
MENJADI MANUSIA BEBAS
Orang bangga jika mampu memenuhi target yang diberikan kepadanya. Padahal orang yang dibatasi target yang ditetapkan, bukanlah manusia bebas. Maka jadilah manusia bebas merdeka, dengan melakukan segala sesuatu melebihi target yang ditetapkan pada Anda, diminta atau tidak. Manusia besar..., adalah mereka yang bebas dari target-target yang dilekatkan kepadanya!(HT, Kompas,3 Januari 2009)

Senin, 01 November 2010

The Mirror : MANUSIA-MANUSIA GIPS

W.James: Manusia usia separuh baya ke atas,akan seperti gips. Sulit melunak, sulit berubah. Yang baik akan tetap baik, yang jelek akan tetap jelek (note:hanya nilai diri luhur saja yang mampu merubah manusia gips).Para pemimpin negeri ini rata-rata di usia manusia gips.Maka: Indonesia ...yang lebih baik, cenderung jadi mimpi. Sebab, mereka lebih banyak yang jelek ketimbang yang baik.

KAKI YANG BERAT

The Mirror : KAKI YANG BERAT
Ada 2 jenis manusia dalam menghadapi kepengapan hidup: 1) ketika kaki terasa berat melangkah, ia berhenti, mengeluh, atau melemparkan kekesalan ke segenap penjuru, 2) ketika kaki semakin berat, ia tersenyum, sebab ia tahu jalan hidupnya justru sedang menanjak. Silakan pilih ingin jadi yang... pertama atau kedua. Itu hak "prerogatif" Anda masing-masing. (Bukan Cuma SBY yang punya hak itu).
See More
10 hours ago · ·